Sejarah
Belanda memperkenalkan sistem pendidikan formal bagi
penduduk Hindia Belanda (cikal bakal Indonesia),
meskipun terbatas bagi kalangan tertentu yang terbatas. Sistem yang mereka
perkenalkan secara kasar sama saja dengan struktur yang ada sekarang, dengan
tingkatan sebagai berikut:
·
Europeesche Lagere School (ELS), sekolah
dasar bagi orang Eropa
·
Hollandsch-Inlandsche School (HIS),
sekolah dasar bagi pribumi
·
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs
(MULO), sekolah menengah pertama
·
Algemeene Middelbare School (AMS), sekolah
menengah atas
Sejak
tahun 1930-an, Belanda memperkenalkan pendidikan formal terbatas bagi hampir
semua provinsi di Hindia Belanda.
Filosofi pendidikan
Pendidikan
biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung
seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang
dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca
kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum
kelahiran.
Bagi
sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan
formal. Seperti kata Mark Twain,
"Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.”
Anggota
keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih
mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan
secara tidak resmi.
Fungsi pendidikan
Menurut
Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata
(manifes) berikut:
·
Mempersiapkan anggota masyarakat
untuk mencari nafkah.
·
Mengembangkan bakat perseorangan
demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
·
Melestarikan kebudayaan.
·
Menanamkan keterampilan yang perlu
bagi partisipasi dalam demokrasi.
-
Fungsi lain dari lembaga pendidikan
adalah sebagai berikut.
·
Mengurangi pengendalian orang tua.
Melalui pendidikan, sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam
mendidik anak kepada sekolah.
·
Menyediakan sarana untuk
pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di
masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah
dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.
·
Mempertahankan sistem kelas sosial.
Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya
untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang
ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa
ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang
tuanya.
·
Memperpanjang masa remaja.
Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa
masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.
-
Menurut David Popenoe, ada empat
macam fungsi pendidikan yakni sebagai berikut:
·
Transmisi (pemindahan) kebudayaan.
·
Memilih dan mengajarkan peranan
sosial.
·
Menjamin integrasi sosial.
·
Sekolah mengajarkan corak
kepribadian.
·
Sumber inovasi sosial.
Sejarah
Belanda memperkenalkan sistem pendidikan formal bagi penduduk Hindia Belanda (cikal bakal Indonesia), meskipun terbatas bagi kalangan tertentu yang terbatas. Sistem yang mereka perkenalkan secara kasar sama saja dengan struktur yang ada sekarang, dengan tingkatan sebagai berikut:
·
Europeesche Lagere School (ELS), sekolah
dasar bagi orang Eropa
·
Hollandsch-Inlandsche School (HIS),
sekolah dasar bagi pribumi
·
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs
(MULO), sekolah menengah pertama
·
Algemeene Middelbare School (AMS), sekolah
menengah atas
Sejak
tahun 1930-an, Belanda memperkenalkan pendidikan formal terbatas bagi hampir
semua provinsi di Hindia Belanda.
Filosofi pendidikan
Pendidikan
biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung
seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang
dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca
kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum
kelahiran.
Bagi
sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan
formal. Seperti kata Mark Twain,
"Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.”
Anggota
keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih
mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan
secara tidak resmi.
Fungsi pendidikan
Menurut
Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata
(manifes) berikut:
·
Mempersiapkan anggota masyarakat
untuk mencari nafkah.
·
Mengembangkan bakat perseorangan
demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
·
Melestarikan kebudayaan.
·
Menanamkan keterampilan yang perlu
bagi partisipasi dalam demokrasi.
·
Mengurangi pengendalian orang tua.
Melalui pendidikan, sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam
mendidik anak kepada sekolah.
·
Menyediakan sarana untuk
pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di
masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah
dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.
·
Mempertahankan sistem kelas sosial.
Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya
untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang
ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa
ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang
tuanya.
·
Memperpanjang masa remaja.
Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa
masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.
·
Transmisi (pemindahan) kebudayaan.
·
Memilih dan mengajarkan peranan
sosial.
·
Menjamin integrasi sosial.
·
Sekolah mengajarkan corak
kepribadian.
·
Sumber inovasi sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar